Tanaman Hidroponik
Tanaman Hidroponik

Kebisingan kota yang padat dengan lalu lalang kendaraan menjadi pemandangan umum yang akan Kamu temui ketika mengunjungi sebuah daerah perkotaan. Aktivitas masyarakat yang sibuk memaksa kota juga tumbuh dan berkembang dengan cepat untuk menyokongnya. Kebutuhan akan ketersediaan bangunan dan sarana penunjang aktivitas wara ibu kota, menjadi penyebab hilangnya lahan hijau di daerah perkotaan.

Lahan hijau bisa menjadi salah satu sarana pereda kelelahan bagi warga ibu kota setelah sibuk dengan beragam aktivitas keseharian mereka. Namun, seiring berjalannya waktu serta pertumbuhan jumlah masyarakat yang semakin tinggi membuat keberadaan lahan hijau sangat sulit dijumpai di daerah perkotaan. Penelitian dan inovasi dirancang untuk mengatasi permsalahan tersebut. Penemuan hidroponik bisa menjadi jawaban bagi warga masyarakat ibu kota yang rindu untuk melakukan aktiivitas berkebun.

Hidroponik merupakan salah satu metode yang dikembangkan dalam budidaya pertanian. Penanaman dilakukan dengan memanfaatkan media air sebagai media tanam. Hal yang harus diperhatikan dalam budidaya tanaman dengan sistem hidroponik adalah pemenuhan kebutuhan hara nutrisi bagi tanaman yang ditanam.

 

Sejarah Perkembangan Budidaya Tanaman dengan Teknik Hidroponik

Tanaman Hidropnik
Tanaman Hidropnik

Pengembangan teknik penanaman hidroponik pada awalnya dikembangkan oleh Francis Bacon pada tahun 1627, yang ditulis didalam buku Sylva Sylvarum. Setelah kepergian Francis Bacon, teknik budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah semakin populer. Pada tahun 1699, John Woodward menerbitkan hasil penelitiannya tentang percobaan budidaya tanaman menggunakan media tanam air yang ditambahkan dengan spearmint. John Woodward menemukan bahwa tanaman yang ditanam didalam media air yang kurang murni, memiliki pertumbuhan yang lebih baik, jika dibandingkan dengan tanaman yang ditanam dengan air murni.

Pada tahun 1842, perkembangan teknik hidroponik semakin baik, pada periode ini ditemukannya sembilan elemen yang dipercaya penting untuk membantu pertumbuhan tanaman yang dibudidayakan dengan teknik hidroponik. Pada periode 1859 sampai 1865, ahli botani dari Jerman yaitu Julius Von Sachs dan Wilhelm Knop mengembangkan teknik budidaya tanpa media tanah. Penanaman dilakukan menggunakan media yang menekankan pemenuhan kebutuhan nutrisi mineral bagi tanaman.

Pada tahun 1929, William Frederick Gericke dari Universitas California di Berkeley memperkenalkan secara terbuka tentang budidaya untuk menghasilkan tanaman pertanian dengan memanfaatkan media tanam berupa air. Pada mulanya, teknik ini dikenal dengan istilah aquaculture. Namun, istilah ini diubah menjadi hidroponik pada tahun 1937. Perubahan ini dilakukan karena istilah aquaculture telah diterapkan pada budidaya perairan. Pada mulanya, Gericke menerapkan teknik budidaya hidroponik dengan menanam tomat yang mampu tumbuh mencapai dua puluh lima kaki dengan larutan nutrient mineral selain tanah.

Budidaya tanaman dengan memanfaatkan teknik hidroponik pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1980 dan diperkenalkan oleh Bob Sadino kepada masyarakat luas. Pada mulanya, penananaman dengan teknik hidroponik hanya diterapkan dalam skala kecil, seperti penanaman tanaman hias di rumah, serta menjadi salah satu dekorasi di ruanan rumah yang unik dan menarik.

Namun, seiring perkembangan waktu, hidroponik bukan lagi hanya sekedar hobi, masyarakat bisa meanfaatkan teknik ini untuk menanam tanaman yang bisa diperjual belikan secara komersial. Pertumbuhan tanaman hidroponik lebih baik jika dibandingkan dengan penanaman denan sistem konvensional. Proses penanaman hidroponik juga dikenal lebih mudah dan efisien, beberapa tahapan yang harus kamu lakukan dalam teknik budidaya hidroponik adalah pembibitan, persiapan lahan nutrisi, penanaman, perawatana dan panen. Selain itu, penanaman hidroponik juga dikenal bisa dilakukan dalam waktu yang lebih cepat atau lebih efisien jika dibandingkan dengan sistem tanam konvensional. Hal ini menjadikan sistem budidaya hidroponik sangat cocok dilakukan untuk warga ibu kota yang memiliki keterbatasan lahan dan waktu untuk bercocok tanam.

Beberapa jenis tanaman yang bisa kamu budidayakan dengan hidroponik adalah  paprika, tomat, timun jepang, melon, terong jepang, salada dan berbagai jenis sayuran lainnya. Media tanam yang bisa kamu jadikan sebagai inert atau media tanam yang tidak menyediakan unsur hara untuk budidaya hidroponik adalah arang sekam, spons, expanded clay, eockwool, sabut (cor), perlite, batu apung (pumice), vermiculite, pasir, kerikil dan juga serbuk kayu atau serbuk gergaji.

 

Keuntungan dalam budidaya hidroponik

Teknik hidroponik yang diterapkan dalam budidaya tanaman akan memberikan beberapa keuntungan, yaitu:

  1. Menjadi solusi untuk Kamu yang memiliki keinginan berkebun, namun tidak mempunyai luas lahan yang cukup untuk ditanami. Budidaya hidroponik tidak membutuhkan lahan yang luas. Kamu bisa memanfaatkan sudut ruangan rumah atau bagian atap rumah, sebagai tempat untuk menjalankan budidaya hidroponik.
  2. Sistem hidroponik yang dikembangkan menyebabkan air akan terus berskiluasi didalam sistem hidroponik, sehingga kamu bisa memanfaatkannya untuk keperluan lain, seperti dijadikan akuarium.
  3. Pemanfaatan nutrisi yang bisa diatur secara efektid dan efisien, karena proses pengendalian nutrisi pada budidaya hidroponik sangat sederhana.
  4. Hidroponik tidak menghasilkan polusi nutrisi di lingkungan, hal ini akan mengurangi polusi lingkungan yang dihasilkan dari budidaya tananaman dengan sistem konvensional.
  5. Budidaya hidroponik menghasilkan jumlah tanaman yang lebih banyak.
  6. Tidak seperti sistem budidaya konvensional, proses memanen hasil budidaya hidroponik lebih mudah.
  7. Hidroponik lebih steril dan bersih.
  8. Media tanam hidroponik bisa digunakan secara berulang kali, sehingga membuat sistem budidaya ini lebih efisien.
  9. Hidroponik, juga memiliki keuntungan, dimana bebas dari tumbuhan pengganggu atau gulma, yang biasanya ditemukan pada proses budidayan tanaman dengan sistem tanam konvensional.
  10. Tanaman hidroponik bisa tumbuh dengan lebih cepat jika dibandingkan dengan sistem tanam konvensional.
Tanaman Hidroponik
Tanaman Hidroponik

Selain, menghasilkan tanaman dalam waktu yang lebih singkat dan berbagai keuntungan lainnya dari budidaya hidroponik yang telah dijelaskan sebelumnya. Budidaya hidroponik juga bisa dijadikan interior yang akan memperindah tampilan ruangan rumah. Rancangan interior yang tepat untuk penempatan pot – pot hidropik adalah kunci untuk memperindah tampilan perumahan yang ditanami dengan tanaman hidroponik.

 

Hidroponik yang dikembangkan di Indonesia

Selain dimanfaatkan untuk budidaya tanaman yang akan dinikmati pribadi, teknik hidroponik semakin dilirik sebagai salah satu peluang bisnis di Indonesia. Permintaan sayuran hidroponik yang terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu, menjadikan peluang pasar produk ini semakin besar di Indoneseia. Salah satu perusahaan yang menghasilkan produk hidroponik di Indonesia adalah Parung Farm.

Parung Farm didirikan pada tahun 2003, dengan produk utamanya adalah jenis sayur – sayuran yang memiliki daun dan cara penanamannya dilakukan dengan cara hidroponik khusus. Parung Farm menghasilkan produk yang bebas dari pestisida. Produknya dipasarkan di kota – kota di Indonesia misalnya di Kota Bandung dan Jakarta.

 

Permasalahan dalam budidaya hidroponik

Tanaman Hidroponik
Tanaman Hidroponik

Walaupun  memiliki nilai ekonomi yang tinggi, akan tetapi budidaya hidroponik di Indonesia menghadapi beberapa kendala. Secara umum, beberapa permasalahan yang dialami adalah;

  1. listrik yang harus tetap menyala selama 24 jam, tujuannya adalah menjaga kelembaban dari tanaman serta mempertahankan pertumbuhan tanaman, listrik yang mati akan meningkatkan kemungkinan matinya tanaman yang dibudidayakan.
  2. Daun yang rusak, kerusakan tanaman salah satunya disebabkan oleh peningkatan kelembaban area penanaman. Hujan dalam intensitas yang tinggi serta dalam waktu yang lama akan meningkatkan kelembaban, hal ini akan menyebabkan kerusakan pada daun tanaman.
  3. Konsentrasi larutan, hujan juga menyebabkan perubahan larutan nutrisi, karena air hujan memiliki kandungan asam.

Share:

Leave a Reply