Semua bagian dari pohon kelapa bisa diambil manfaatnya, termasuk bunganya. Bunga kelapa dapat diolah menjadi berbagai macam hal. Bunga kelapa yang bermanfaat ditambah dengan kreatifitas masyarakat Indonesia dalam mengolah berbagai sumber daya alam dapat menjadi keuntungan yang besar. Bunga kelapa biasanya diolah menjadi bahan makanan dan juga bumbu. Bunga kelapa sering disebut manggar. Beberapa bahan makanan dan makanan yang dapat dibuat dari bunga kelapa adalah cuka, gula merah, alkohol, gudeg, hingga beberapa obat tradisional.

Pohon Kelapa
Pohon Kelapa

Pembuatan gula merah menggunakan bunga kelapa

Gula
Gula

Bunga kelapa dapat dibuat menjadi gula merah. Proses pembuatan gula merah ini tidaklah sulit hanya saja waktu yang dibutuhkan sangat panjang. Bunga kelapa dapat disadap hingga mengasilkan banyak nira. Nira-nira ini ditampung hingga banyak. Nira dari bunga kelapa ini kemudian direbus dengan cara tradisional. Untuk merebus nira dapat menggunakan kayu bakar dan batok kelapa kering. Proses ini harus dijalankan hingga 7 jam. Waktu yang dihabiskan ini akan membuat nira mengental dan berwarna kuning. Setelah nira kental ini diangkat, nira harus diaduk selama 45 menit. Lalu proses pencetakan bisa dilakukan. Biarkan nira mengering hingga menjadi gula merah.

Pembuatan tuak dari bunga kelapa

Tuak
Tuak

Bunga kelapa banyak dimanfaatkan untuk membuat tuak. Untuk membuatnya caranya cukup mudah dan cepat. Hal inilah yang menjadi faktor mengapa harga tuak sangat murah di Indonesia. Cara membuatnya adalah dengan menyadap bunga kelapa.

Pilihlah bunga kelapa yang belum tua tapi juga tidak muda. Bunga kelapa ini harus dililit dengan tali. Pada pangkal bunga kelapa harus diberi sedikit irisan hingga terbuka. Lilitan tali yang telah dibuat, akan disambung dengan tali lain yang diikat pada daun kelapa. Hal ini dilakukan untuk membuat bunga kelapa merunduk perlahan-lahan. Bunga kelapa akan merunduk sempurna dalam waktu 3 hari. Jangan lupa untuk memotong ujung bunga kelapa.

Setelah 3 hari nira sudah dapat ditampung. Di Bali, nira ditampung dengan bambu yang panjang dan berdiameter sekitar 10cm. Di dalam bambu tersebut harus terlebih dahulu diisi dengan sabut kelapa yang sudah kering dan kulit pohon laru. Sabut kelapa ini harus dipisah-pisah. Sementara kulit pohon raru yang digunakan hanya 2 batang sepanjang 15cm dengan lebar 2cm. Kulit pohon raru ini bisa dibungkus dengan sabut kelapa. Setelah dua benda tersebut masuk ke dalam bambu, nira sudah bisa ditampung. Penampungan nira ini sekaligus juga membuatnya menjadi nira fermentasi. Proses fermentasi sudah sempurna hanya dalam waktu 24 jam. Setelah menampung nira dari bunga kelapa selama 24 jam, nira sudah bisa diambil. Untuk waktu satu hari satu malam, nira yang akan didapat sekitar 5 liter. Nira ini sudah bisa dikatakan sebagai tuak. Saring tuak dengan saringan dan pindahkan ke botol. Tuak sudah dapat dinikmati. Orang Bali menggunakan bambu agar tuak yang mereka buat tidak berbusa karena paparan sinar matahari.

Berbeda dengan cara yang dilakukan di Bali, di Sumatra Utara, nira terlebih dahulu ditampung. Penampungan nira dilakukan dengan jerigen atau bisa juga dengan botol biasa. Setelah nira memenuhi jerigen, nira akan dipindahkan pada jerigen yang lebih besar untuk difermentasi. Tentunya fermentasi ini dilakukan dengan memberikan kulit pohon raru juga. Tuak ini sudah bisa dinikmati setelah satu hari difermentasi.

Sementara itu, di Jawa Tengah, hampir sama dengan di Bali. Proses fermentasi dilakukan sejak penampungan nira di pohon kelapa. Nira yang diperoleh dari bunga kelapa ini ditampung dengan jerigen. Biasanya jerigen penampung tersebut diisi dengan sedikit cairan khusus untuk membantu fermentasi nira. Proses ini berlangsunh selama dua hari, setelah itu tuak bisa dinikmati.

Gudeg manggar khas masyarakat Bantul, Yogyakarta

Yogyakarta
Yogyakarta

Gudeg manggar adalah makanan yang datang dari Bantul, Yogyakarta. Manggar sendiri bagi masyarakat Jawa artinya adalah bunga kelapa. Jadi gudeg manggar adalah gudeg yang dibuat dari bunga kelapa. Gudeg manggar membawa kisahnya tersendiri yang membuatnya menjadi makanan bersejarah.

Gudeg manggar pertama kali dibuat oleh Gusti Retno Pembayun pada tahun 1600-an. Pembayun adalah seorang keturuan Panembahan Senopati. Seperti yang sudah terkenal di mana pun, makanan khas Yogya adalah gudeg yang terbuat dari nangka muda. Namun, masyarakat yang mengganti nangka muda menjadi bunga kelapa atau manggar. Hal ini dilakukan sebagai bentuk protes masyarakat Bantul terhadap Sri Sultan Hamengkubuwono yang pada masa perlawanan Diponergoro dianggap lebih pro pada Belanda.

Gudeg bunga kelapa ini dibuat dan dibumbui sama dengan gudeg biasa. Namun proses memasaknya memakan waktu yang tidak sebentar. Untuk mendapatkan gudeg bunga kelapa dengan kelezatan sempurna, proses memasak harus dilakuka  selama 14 jam. Saat memakan gudeg bunga kelapa tekstur yang akan dirasakan berbeda dengan gudeg nangka. Gudeg bunga kelapa tetap menghadirkan rasa renyah saat digigit. Selain itu bedanya dengan gudeg biasa adalah rasanya yang tidak hanya manis tetapi gurih alami dari bunga kelapa.

Gudeg bunga kelapa memiliki gizi yang baik untuk setiap yang memakannya. Gudeg bunga kelapa memiliki vitamin B1, vitamin C, dan vitamin A. Gudeg manggar juga memiliki protein sebesar 19 gram dan karbohidrat 30 gram. Sudah lezat, gudeg bunga kelapa ini juga bergizi. Tidak heran gudeg bunga kelapa menjadi favorit keluarga keraton Yogyakarta.

Kembang kelapa

Kembang kelapa adalah hiasan yang dibuat menyerupai bunga kelapa. Hiasan ini dibuat dengan menggunakan kertas krep warna-warni dan lidi. Lidi sendiri adalah salah satu benda yang bisa didapat dari pohon kelapa yaitu bagian daunnya. Lidi sengaja diproduksi untuk dimanfaatkan sebagai sapu. Selain sapu, lidi juga bisa digunakan sebagai pengerat daun saat memasak.

Untuk membuat kembang kelapa kertas krep harus gunting sisinya tetapi tidak boleh sampai putus. Kertas krep panjang yang sudah digunting siap ditempelkan pada lidi. Kertas krep ini kemudian dililitkan dengan menggunakan lem kertas pada lidi. Lilitan ini harus rapat, tidak boleh ada celah lidi yang terlihat. Pada bagian bawah, sisakan 4cm lidi yang tidak dililit kertas krep.

Hiasan kembang kelapa yang menyerupai bunga kelapa ini bisa dijadikan hiasan. Biasanya masyarakat suku Betawi menjadikan kembang kelapa sebagai hiasan pada ondel-ondel, hiasan saat hajatan, dan banyak lagi. Kembang kelapa kelapa memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Betawi. Kembang kelapa melambangkan kemakmuran bagi masyarakat yang ada, hal ini dapat dilihat dari letaknya yang tinggi. Dibentuk menyerupai pohon kelapa, kembang kelapa berfilosofi agar banyak orang menjadi bermanfaat seperti apa yang kita ketahui mengenai pohon kelapa. Dengan rangkaian warna-warna yang berbeda pada setiap hiasan, kembang kelapa adalah simbol masyarakat Jakarta yang hidup berdampingan dalam keadaan multikultural. Bunga kelapa sangat dalam jika ditelusuri maknanya.

Share:

Leave a Reply