Setiap tanggal 14 Februari, suasana kota biasanya langsung berubah. Kamu pasti sering lihat orang lalu-lalang bawa bunga, cokelat, atau boneka—baik di mall, kafe, sampai di jalanan. Valentine memang identik dengan bertukar kado, dan cokelat hampir selalu jadi pilihan utama.
Bukan tanpa alasan. Selain rasanya enak, cokelat mudah ditemukan, bisa dikreasikan dalam berbagai bentuk, dan punya kesan manis yang pas dengan momen cinta. Bahkan, menurut JawaPos.com, salah satu produsen cokelat di Surabaya mengalami lonjakan permintaan hingga 30–40% menjelang Valentine. Tapi, pernah nggak sih kamu bertanya: kenapa cokelat bisa sedekat itu dengan Valentine?
Looking for gifts? Explore our rose collection.
Sejarah Awal Cokelat sebagai Simbol Cinta

Jauh sebelum cokelat jadi hadiah Valentine modern, suku Maya sudah lebih dulu mengaitkan cokelat dengan momen spesial. Sekitar 500 tahun sebelum Masehi, mereka memiliki kebiasaan menyajikan minuman dari biji cokelat dalam ritual perayaan dan pernikahan.
Menurut berbagai sumber, termasuk VOI.id dan Phys.org, cokelat pada masa itu dikonsumsi dalam bentuk dark chocolate murni, tanpa gula, dengan rasa pahit yang kuat. Tradisi bertukar minuman cokelat ini perlahan membentuk makna simbolis cokelat sebagai lambang ikatan dan kebersamaan. Namun, makna cokelat tidak berhenti di satu peradaban saja. Di tangan bangsa lain, cokelat berkembang dengan interpretasi yang berbeda.
Discover our lily bouquets today.
Cokelat dan Kemewahan ala Bangsa Aztec

Bangsa Aztec juga mengenal cokelat, tetapi dengan sudut pandang yang lebih eksklusif. Berbeda dari Maya, cokelat di kalangan Aztec identik dengan kemewahan, kekuasaan, dan seksualitas. Biji cokelat bahkan digunakan sebagai alat tukar, setara dengan emas dan kapas.
Kelangkaan pohon cokelat membuatnya hanya bisa dinikmati kalangan tertentu. Meski mahal, cokelat tetap diminati karena dipercaya meningkatkan stamina dan dianggap sebagai pemberian dari dewa kesuburan dan cinta. Dari sinilah cokelat mulai membawa dua makna besar. kekuatan dan hasrat—dua elemen yang kemudian sangat dekat dengan konsep cinta. Seiring waktu, cokelat pun meninggalkan benua Amerika dan mulai dikenal dunia Barat.
Perjalanan Cokelat ke Eropa

Masuknya cokelat ke Eropa sering dikaitkan dengan pelayaran Christopher Columbus pada awal abad ke-16. Dari Amerika, biji cokelat dibawa ke Spanyol dan mulai diolah dengan tambahan gula dan madu untuk menyesuaikan selera masyarakat Eropa.
Cara penyajiannya pun berubah—dari minuman dingin menjadi cokelat hangat. Popularitasnya menyebar hingga Inggris, di mana kedai cokelat bermunculan dan menjadi tempat berkumpul kalangan atas. Namun, di tahap ini, cokelat masih sekadar minuman mewah—belum menjadi simbol cinta. Perubahan besar baru terjadi ketika budaya romantisme mulai berkembang di Eropa.
Titik Balik: Cokelat dan Valentine di Era Victoria

Memasuki era Victoria pada pertengahan abad ke-19, Valentine mulai dirayakan secara terbuka sebagai hari romansa. Inilah momen penting yang mengubah posisi cokelat dari sekadar makanan mewah menjadi hadiah cinta.
Pada tahun 1861, Richard Cadbury menciptakan cokelat berbentuk hati yang dikemas dalam kotak dekoratif. Bukan hanya cokelatnya yang istimewa, tetapi juga kemasannya—kotak tersebut bisa disimpan sebagai kenang-kenangan. Inovasi ini sukses besar dan menjadi fondasi budaya memberikan cokelat saat Valentine, sering kali dipadukan dengan bunga. Dari sinilah cokelat mulai benar-benar melekat dengan perayaan cinta modern.
Evolusi Rasa: Hadirnya Cokelat Susu

Agar bisa dinikmati lebih luas, cokelat terus berevolusi. Daniel Peter, terinspirasi oleh temannya Henry Nestlé, berhasil menciptakan cokelat susu dengan menggabungkan cokelat dan susu bubuk. Hasilnya adalah rasa yang lebih lembut dan manis, membuat cokelat semakin populer di berbagai kalangan. Sejak saat itu, cokelat tidak lagi eksklusif untuk kalangan tertentu, melainkan menjadi hadiah universal—mudah dinikmati, tapi tetap bermakna. Popularitas ini kemudian menyebar hingga ke Amerika.
Cokelat Valentine di Budaya Populer Amerika

Di Amerika, cokelat berkembang pesat melalui merek-merek besar seperti Hershey’s. Awalnya diproduksi sebagai sumber energi, cokelat kemudian berevolusi menjadi simbol perhatian dan kasih sayang. Produk seperti Hershey’s Kisses memperkuat citra cokelat sebagai hadiah kecil yang penuh makna.
Tak lama kemudian, cokelat box berbentuk hati mulai populer melalui merek seperti Russell Stover, yang menghadirkan cokelat dalam kemasan elegan sebagai hadiah Valentine. Sejak saat itu, cokelat box menjadi standar hadiah Valentine hingga sekarang.
Dari Sejarah Panjang ke Tradisi Modern
Perjalanan cokelat sebagai simbol Valentine bukanlah sesuatu yang instan. Dari ritual peradaban kuno, lambang kemewahan, hingga inovasi industri modern, cokelat terus membawa makna yang sama: ungkapan perhatian dan cinta.
Apa pun pilihannya—dark, milk, atau white chocolate—yang terpenting bukan jenisnya, melainkan niat di balik pemberiannya. Karena pada akhirnya, Valentine bukan soal hadiah paling mahal, tapi tentang komitmen untuk saling menjaga dan mencintai.
Kini, tradisi tersebut hadir dalam berbagai bentuk modern. Mulai dari cokelat premium, rangkaian bunga romantis, hingga gift set elegan, semuanya menjadi cara sederhana untuk menyampaikan rasa sayang. Melalui FlowerAdvisor, kamu bisa menemukan berbagai pilihan hadiah Valentine yang dirancang untuk membantu mengekspresikan perasaan dengan lebih personal dan bermakna—tanpa harus ribet menyiapkannya sendiri.
Karena pada akhirnya, Valentine bukan soal hadiah paling mahal, tapi tentang bagaimana sebuah perhatian kecil bisa menciptakan momen yang tak terlupakan.








